Home / Review / Pengalaman Bikin Rumah Sendiri Yang Habisin Budget Tak Terduga

Pengalaman Bikin Rumah Sendiri Yang Habisin Budget Tak Terduga

Ada yang bilang mending beli rumah baru yang sudah jadi daripada bangun sendiri. Itu nasihat yang saya juga dapatkan sebelum membuat rumah sendiri. Namun, saya tidak begitu percaya. Terkadang, ada spesifikasi barang yang kurang bagus. Umumnya bagian spesifikasi yang tidak terlihat. Contohnya saja bagian pipa air. Karena ini tidak terlihat, terkadang developer menggunakan pipa merk kurang bagus.

pipa air rucika

Belum lagi masalah pengguanan semen, flooring, dan lain sebagainya. Karena itulah akhirnya saya memberanikan diri untuk membuat rumah sendiri. Tentu saja bukan membuat sendiri melainkan saya cari tukang sendiri, menentukan spesifikasi sendiri, bahkan beli material sendiri.

Dan apa yang orang katakan benar. Biaya pembangunan lebih banyak daripada budget yang diperkirakan di awal.

Akan tetapi, hal tersebut tidak lantas membuat saya menyarankan teman-teman untuk beli rumah yang sudah jadi saja. Tidak. Justru seharusnya mereka yang tidak punya budget yang cukup untuk memiliki rumah sebaiknya buat sendiri saja.

Mungkin pengalaman saya ini membantu Anda yang saat ini ingin punya rumah tapi bingung apakah beli rumah yang sudah jadi atau buat sendiri.

  1. Beli Tanah

Salah satu alasan mengapa saya dan istri memutuskan untuk beli rumah sendiri adalah budget yang minim. Saya masih ingat waktu itu hanya punya uang sekitar 70 juta. Dan kami bersyukur dengan uang tersebut kami bisa membeli sebidang tanah dengan luas 170 meter persegi. Karena kami tinggal di daerah kota kecil (Wonosobo, Jawa Tengah), 70 juta pada tahun 2013 sudah bisa digunakan untuk beli tanah sebesar itu. Jadi, kami bisa mencicil.

  1. Persiapan Bahan Bangunan

Setelah beli tanah, rumah tidak segera dibangun. Saya menunggu sejenak untuk menabung. Sambil menabung, saya persiapkan bahan bangunan yang sekiranya bisa dicicil, seperti membeli daun pintu kamar, jendela, dan besi.

  1. Siap Buat Rumah Tahap Pertama

Kenapa tahap pertama? Karena saya dan istri hanya punya sedikit uang, kami membagi pembangunan menjadi beberapa tahap. Tahap pertama hanya berupa konstruksi saja. Jadi, yang penting rumah jadi. Lantai belum dipasang granit. Tembok belum dihaluskan. Yang terpenting, konstruksinya kuat. Dan juga bagian saluran air. Saya memilih pipa air Rucika yang memang harganya sedikit lebih mahal tapi bagus, tahan lama. Karena pipa ini sebaiknya sekali dipasang untuk selamanya. Apalagi pipa ini akan ditanam. Jangan sampai yang jelek karena nanti bhttp://www.rucika.co.idisa pecah dan biaya perbaikan bisa lebih mahal.

  1. Finishing

Setelah kurang lebih 6 bulan pembuatan rumah tahap pertama, kami berhenti sejenak untuk menabung lagi untuk bersiapan finishing. Barulah kami beli beberapa material seperti granit, cat tembok, dan lain sebagainya.

Memang lama. Dan rumah tidak bisa dengan cepat ditempati. Namun, setidaknya ada kepuasan karena saya merencanakan sendiri dari awal. Dan yang pasti, ini tidak membebani. Kami bisa menempati rumah tanpa harus mencicil hutang.

About Teguh Riyanto

Tinggal di kota dingin Wonosobo. Menulis menjadi kegiatan yang dilakukan setiap hari
Scroll To Top